MALAM ini, langit menjadi pihak ketiga, setelah aku, dan seseorang yang kini berada di hadapanku. Sebuah asbak yang telah kubersihkan, serta secangkir kopi yang baru saja kuseduh kembali, turut meramaikan.
“Jadi, sudah sejauh mana penantianmu?” tanyaku, pada seseorang itu. Ia hanya diam, sama sekali tanpa gumam.
“Bagaimana bisa kau bertahan dalam penantian tanpa sebuah kepastian?” tanyaku kembali. Kembali berdiam pula ia.
“Yang sekarang kau lakukan hanya membuang-buang waktumu. Mengapa kau tidak melakukan sesuatu yang lain, yang jauh lebih menguntungkanmu? Kau menginginkan seseorang yang telah termiliki, lantas lebih memilih menanti hingga ia menyendiri kembali,” tambahku, sembari menyalakan sebatang rokok.
“Mau sampai kapan? Sampai kapan?” kuhembuskan asap rokokku tepat di hadapannya.
Mulut seseorang itu tampak bergetar. Sepertinya, ia berniat untuk angkat bicara. Baguslah.
“Entahlah. Aku juga tak tahu hendak sampai kapan aku bertahan dalam penantian tanpa kepastian seperti ini. Hanya saja, bagiku, dia menjadi apa yang paling aku inginkan. Celakanya, telah ada seseorang yang menjadi miliknya. Padahal, aku telah lebih dulu mengenalnya, telah lebih dulu mencintainya, telah lebih dulu menginginkannya daripada seseorang yang sekarang dicintainya. Apa aku pantas menyalahkan kekasihnya? Atau, aku lebih layak menyalahkan waktu?” balasnya.
kucerna pernyataannya, sembari menyeruput kopi hangatku.
“Kau tak pantas menyalahkan kekasihnya, juga tak pantas menyalahkan waktu. Kau seharusnya bertanya pada dirimu sendiri. Mengapa tak secepatnya kau ungkapkan apa yang kau rasakan terhadap dia yang begitu kau inginkan? Benar saja. Kau memang hobi mengulur-ngulur waktu, ternyata. Iya, seperti yang kau lakukan saat ini. Menanti yang tidak pasti,” jelasku, sambil mematikan batang rokok, sebab ia telah terbakar hingga ujung.
“Kau benar. Aku dilema saat ini. Sering kali, kudapati diriku berdiam ketika aku tengah berada di sampingnya. Dia kerap bertanya padaku, kenapa aku hanya berdiam diri. Kujawab hanya dengan gelengan kecil, dan senyum yang melengkung dari bibirku. Perlu kau ketahui, ketika aku tepat berada di sampingnya, aku seperti mati suri. Aku bingung. Aku bingung tentang hendak apa yang akan kulakukan. Kuakui, aku begitu senang ketika tengah berada di dekatnya. Kuakui juga, bahwa dalam hatiku, aku sedang menangis. Menangisi kenyataan, bahwa seseorang yang paling aku inginkan, tak pernah bisa kudapatkan. Aku juga tahu, bahwa dia hanya menganggapku sebagai teman. Tanpa dia menyadari, bahwa dia adalah apa yang paling aku inginkan. Jika benar nanti aku telah lelah menanti, tanpa ragu, aku akan berhenti. Dan semoga nantinya, sesal tak akan membuntuti,” kembali kucerna pernyataannya yang selanjutnya, lewat api yang membakar batang rokokku yang kedua.
“Ketahuilah, jarak terjauhmu dengan seseorang yang kau inginkan, adalah ketika kau tepat berada di sampingnya, dan kau pun menyadari bahwa dia tak akan pernah bisa kau miliki. Benar, memang sakit, mendapati rasa kehilangan sesuatu yang tak pernah dimiliki. Bahkan, biar kupastikan, itu lebih sakit dari rasa kehilangan sesuatu yang pernah dimiliki,” ucapku, setelah iseng mengepalkan asap rokok berbentuk lingkaran ke hadapannya.
“Iya. Toh juga, aku mempercayai, Tuhan sedang mempersiapkan waktu untuk aku dan dia dipersatukan dalam sebuah ikatan. Sebagai apa yang tak pernah teripashkan,” tambahnya.
di pernyataannya yang ketiga, kucoba mencernanya dengan meneguk kopiku hingga habis.
“Ya ya ya, kau memang pintar. Maka, sudahilah penantianmu itu. Carilah cerita baru. Jika kau terus-terusan menanti yang tak pasti, sama halnya dengan kau melakukan sebuah tindakan konyol,” tutupku.
“Baiklah, aku akan berhenti bertindak konyol, jika kau lebih dulu menyudahi tindakan konyolmu ini,” katanya, dengan nada yang tak mengenakkan.
Apa-apaan ini?! Aku yang memintanya untuk berhenti bertindak konyol, malah dia yang menudingku sedang bertindak konyol. Seperti tidak ada rasa terima kasih, aku pun kesal. Kebetulan, kopiku sudah habis, yang tersisa hanyalah ampasnya. Langsung saja, dengan kuat, kucampakkan cangkir kopiku ke seseorang itu. Seseorang yang kini berada di hadapanku.
Blaaarrr!!!
Ah, sial. Aku telah memecahkan satu-satunya cermin di kamarku.
Move on yak bang?
BalasHapus